Kota Warsaw yang sangat cantik

[Indonesian] Saya dan Eropa Timur

Bagi saya, Eropa Timur itu seperti lelaki tampan misterius dengan rambut ikal berwarna coklat tua dilengkapi dengan tatapan mata yang membuat kedua kaki saya lemas yang senang memberi kejutan-kejutan indah.

Jujur saya tidak pernah ingin ke Eropa untuk menjelajahi Eropa Timur. Negara-negara di bagian itu pun jarang terdengar di telinga saya. Jelas saya lebih familiar dengan kota-kota ternama seperti Paris, Amsterdam, London, Brussels. Namun, pertemanan dan pengalaman saya tinggal di Romania mengubah persepsi saya selama satu tahun ini.

Saya dari Polandia

…kata salah satu teman saya dari program kuliah saya. Dia lah orang pertama yang meninggalkan pesan di Facebook saat saya diberi konfirmasi bahwa saya diterima di program kuliah ini. Saya harus membuka google maps untuk melihat dimana letak Polandia. Ternyata negara tersebut cukup besar dan saya merasa bodoh tidak mengenali Polandia. Setelah beberapa pesan kami pun menjadi teman akrab bahkan sebelum progam kuliah saya dimulai. Satu tahun kami tinggal di kota yang sama, Nantes di Prancis, dan selama waktu itu kami manjadi sahabat. Saya kerap kali dikenalkan dengan keluarganya melalui Skype dan saat mereka datang untuk mengunjunginya, saya dan dua sahabat kami lainnya ikut menyambut mereka.

Saat musim panas tiba, dia mengundang saya ke Polandia. Tidak hanya untuk berkunjung, tapi juga untuk menghadiri pesta pernikahan kakaknya. Saya terdiam terpaku. Tidak hanya saya diberi kesempatan untuk menjelajahi Polandia, negara Eropa Timur pertama saya, tetapi juga ikut merayakan momen spesial dengan keluarganya. Sungguh sebuah kehormatan bagi saya.

Street Art di Warsaw

Street Art di Warsaw penuh dengan makna

Polandia sungguh negara yang menakjubkan. Saya cukup beruntung untuk menikmati Poznań dan Warsaw – bahkan saya sempat pergi ke pedesaan dekat Poznań untuk menikmati danau yang tenang dan hutan rimbun yang dipenuhi kicauan burung. Saya disuguhi dengan kota tua berwarna warni, namun dibalik keceriaan terlihat pula sejarah yang pernah menyelimuti negara ini. Salah satu buktinya adalah dalam bentuk warung bernama bar mleczny yang menyediakan makanan murah dan tipikal Polandia. Warung ini melalui perang dunia pertama dan kedua, dan juga saat Polandia jatuh menjadi negara komunis. Sampai sekarang pun menu yang mereka sajikan lebih murah daripada restauran pada umumnya dan makanan berbasis susu menjadi favorit.

Kota Warsaw yang sangat cantik

Kota Warsaw yang sangat cantik

Saya dari Serbia

Cewek berambut panjang dengan warna pirang itu hampir saja menabrak saya di hostel tempat mahasiswa program saya menginap di hari pertama kami di Prancis. Ternyata dia adalah salah satu teman dari program kuliah saya, wajahnya kusam karena kopernya hilang dan baru akan sampai keesokan harinya dan dia hanya memiliki satu set baju. Dia meminta beberapa saat untuk bersiap-siap saat saya mengajaknya makan malam bersama teman-teman yang lain.

Dari hari pertama itu, kami menjadi teman dekat. Walaupun selama kuliah kami selalu berada di kota yang berbeda, kami selalu memberi kabar satu sama lain. Pada saat libur Natal, kami dengan dua sahabat kami memutuskan untuk berlibur bersama.

Dia berasal dari Belgrade, Serbia. Banyak sekali hal menarik yang dia bagi bersama saya, termasuk sejarah Serbia dengan peperangannya. Bagaimana dia dan keluarganya melalui waktu-waktu yang menyeramkan saat perang sedang berlangsung. Dia juga menceritakan efek dari perang yang terjadi. Saya sangat beruntung dapat bertemu dengan adiknya yang sempat berada di tempat yang sama dengan saya. Dia juga mengenalkan saya pada ibunya melalui Skype.

Selain cerita, dia menggoda saya dengan foto-foto Serbia yang luar biasa menakjubkan. Dia juga mengenalkan saya pada tempat-tempat favoritnya seperti Montenegro dan Kroasia. Dia selalu berkata jika saya ingin berkunjung ke daerah-daerah tersebut, dia dan teman-temannya akan siap membantu. Saya hanya memeluknya saat kata-kata tulus itu keluar dari mulutnya.

Saya dari Romania

Romania adalah negara dimana saya menghabiskan semester ketiga kuliah saya. Saya merasa tertantang untuk tinggal di negara ini. Setelah pengalaman saya di Polandia dan ketertarikan saya pada Serbia, saya yakin bahwa Romania juga akan melelehkan hati saya. Namun cinta tidak selalu pada pandangan pertama. Bucharest adalah ibu kota yang besar dan penuh dengan hiruk pikuk. Mungkin bisa dikatakan sedikit seperti Jakarta namun tanpa macetnya. Saya memang tidak jatuh cinta pada negara ini pada pandangan pertama.

Salah satu gereja Orthodoks di kota tua Bucharest

Salah satu gereja Orthodoks di kota tua Bucharest

Di hari pertama saya masuk kuliah, saya dikenalkan dengan administrator ruangan video conference kami. Masuklah seorang lelaki tinggi berkacamata dan rambut ikal berwarna coklat tua, dia adalah mahasiswa senior di universitas kami yang akan menjadi asisten kami saat kuliah video conference dilaksanakan.

Suatu hari internet di ruangan tersebut bermasalah dan saya pun mengontaknya. Dari situ, kami menjadi teman baik. Saya juga sangat senang saat dia berkata bahwa saya adalah teman Asia pertamanya. Seumur hidupnya dia belum pernah punya teman dari kontinen Asia yang baginya adalah asing dan eksotis. Sungguh menakjubkan! Dalam waktu beberapa bulan kami pun menjadi teman dekatnya, saya dikenalkan dengan pacar dan sahabat-sahabatnya. Kami melakukan beberapa aktivitas bersama. Walaupun wajah saya selalu asing di antara wajah-wajah tampan dan cantik khas Romania, mereka menerima saya sebagai teman, apa adanya.

Saya pun terkesiap ketika dia berkata bahwa saya seperti adik kecilnya (walau umur saya lebih tua dari dia!). Hubungan kami hanya dalam beberapa bulan memang seperti kakak-adik, sempat kami berselisih paham juga, persis seperti kakak adik! Tidak pernah saya bermimpi untuk memilliki “kakak” dari Romania.

Selain pertemanan, di Romania saya sangat menikmati jalan-jalan menelusuri kota tua Bucharest dan juga kota Brașov dan sekelilingnya. Bagi saya, keindahan yang diberikan Romania sangat natural. Keindahannya memiliki kekuatan untuk menarik perhatian saya sampai saya tergila-gila padanya. Ada semacam magis yang tersembunyi yang memanggil saya untuk menelusurinya lebih dalam lagi. Pelan-pelan, namun pasti, saya jatuh cinta pada Romania.

Kota Brasov diselimuti kabut dan salju

Kota Brasov diselimuti kabut dan salju

Namun, tidak semuanya gampang. Seperti tinggal di negara-negara lain, ada beberapa sisi negatif yang tidak saya sukai tentang tinggal di Bucharest. Namun bukankah konsep mencintai adalah menerima apa adanya, dalam keadaan baik maupun buruk?

 

Pertemanan yang dalam dan dekat dengan teman-teman saya dari Eropa Timur membuka pikiran saya dan memberikan saya pandangan baru. Bahwa Eropa tidak sekadar Paris dan Barcelona, namun juga Brașov dan Belgrade. Bahwa Eropa bukan hanya pegunungan Alpen, namun juga pegunungan Carpathian. Bahwa Eropa tidak hanya tentang escargots dan patats, namun juga sarmale dan pierogi. Bagian timur Eropa yang tadinya saya abaikan, seakan-akan terbuka.

Saya sangat bersyukur atas kehadiran mereka yang berhasil membuka perspektif saya dan memberikan dorongan untuk mengeksplorasi tempat-tempat yang dulunya tak pernah terpikirkan. Saya juga senang bisa berbagi kultur dan kebiasaan saya sebagai orang Indonesia. Mereka bahkan mengerti sedikit bahasa Indonesia!

Salah satu jalan di Brasov

Salah satu jalan di Brasov

Saya selalu berpikir bahwa travelling ke negara Eropa Timur harus selalu dengan perhatian khusus. Sejarah yang mereka lalui sungguh menarik dan keras, untuk itu tidak mungkin untuk kita travelling ke daerah tersebut dan mengabaikan sejarahnya – layaknya saat travelling ke tempat-tempat lain. Sejarah di Eropa Timur tercermin pada setiap aspek kehidupan mereka, mulai dari arsitektur gedung sampai dengan cara berpikir orang-orangnya. Bagi saya travelling ke negara-negara tersebut bukan sekadar memanjakan mata dan ber-ooh dan aah dengan pemandangan, namun juga memahami latar belakang negara tersebut yang mungkin sangat berbeda dengan sejarah Asia, terutama Indonesia.

Untuk itu di musim panas ini saya berencana untuk melanjutkan pelajaran saya di Eropa Timur. Saya ingin menginjakkan kaki saya ke negara-negara yang penuh dengan misteri yang setiap kali memberikan kejutan. Saya ingin mengenali kultur dan sejarahnya lebih dalam. Sudah terlanjur saya terbius dengan keindahannya dan sudah terlanjur pula saya ingin mengeksplorasi cerita-ceritanya yang tersembunyi.

Semoga harapan saya ini terkabulkan.

Apakah anda pernah ke Eropa Timur? Apakah anda juga pernah jatuh cinta pada suatu negara seperti saya?

 

 

 

Enhanced by Zemanta

14 comments

  1. Wahh ada artikel bahasa Indonesia nih… Asyik… Meski beberapa kalimatnya kerasa formal banget nggak kaya cas cis cus di twitter tapi artikelnya berbicara banyak.
    Good job, Aggy :-)

  2. Suka, Gy ! Ceritanya punya makna yang dalam. Aku udah lama pengen punya folder khusus cerita dalam bahasa Indonesia. Tapi ga kelar2 sampai sekarang, hihihihi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>